kemenangan golkar pada pemilu 1997 mempunyai arti bahwa
Awaltuntutan mahasiswa pada masa sebelum kejatuhan pemerintahan Presiden from ART MISC at Airlangga University
SampaiPemilu 1997 ini cara pembagian kursi yang digunakan tidak berubah, masih menggunakan cara yang sama dengan Pemilu , 1982, 1987, dan 1992. Pemungutan suara diselenggarakan tanggal 29 Mei 1997. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah pada Pemilu 1992 mengalami kemerosotan, kali ini Golkar kembali merebut suara pendukungnnya.
Padahalpada masa itu partainya ada 3, kok bisa Golkar terus yang menang? Nah, kemenangan Golkar pada pemilu 1997 mempunyai arti bahwa selama masa Orde Baru, pemilu dianggap curang. Balik lagi ke pertanyaan kenapa kok bisa gitu? Penasaran? Yuk, langsung aja cari tau jawabannya di video belajar Zenius di sini. Baca Juga: Mengenal Pemilu di Indonesia
Pakar Pemilu 2024 Menjadi Momentum Kemenangan Golkar. melihat sejarah pemilu paska reformasi, Partai berlogo pohon beringin pernah meraih kemenangan pada tahun 2004. Dia menilai, pada pemilu 2024 Golkar akan mampu bangkit dan bisa meraih kembali kemenangan. Mobile_AP_Rectangle 2 "Pernah unggul, saya kira sekarang momentum (Golkar) menang 2024.
DPPGolkar melalui Ketua Umumnya, Airlangga Hartarto, telah mengungkapkan bahwa bagi Golkar, Banten adalah lumbung suara di wilayah Jawa I. DPP Golkar melalui Ketua Umumnya, Airlangga Hartarto, telah mengungkapkan bahwa bagi Golkar, Banten adalah lumbung suara di wilayah Jawa I. Wasekjen DPP : Kemenangan Golkar di Pemilu 2024 Ada di PK dan PL.
Site De Rencontre Wallis Et Futuna. - Pemilihan Umum 1997 adalah pemilu keenam di masa Orde Baru dan pemilu ketujuh yang digelar Indonesia. Tak ada perubahan berarti dalam sistem pemilu kali ini. Sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya, Pemilu 1997 dilaksanakan untuk memilih anggota DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kotamadya. Yang berbeda dari Pemilu 1997 dibanding pemilu-pemilu sebelumnya adalah kian pekatnya atmosfer protes di masyarakat terhadap rezim Soeharto. Orde Baru sedang berada dalam titik jenuhnya. Situasi ini membuat PPP dan PDI lebih leluasa melontarkan kritik selama kampanye. Selain korupsi, kolusi, dan nepotisme KKN yang kian kentara di tubuh rezim, sumber protes lain adalah peran politik ABRI. Masyarakat menganggap tingkat represi tentara kian meningkat sejalan dengan peran politiknya yang menguat. Apalagi kelompok ini menduduki 100 dari 500 kursi di DPR. Karenanya rezim Soeharto berusaha meredam protes itu dengan menerbitkan UU no. 5/1995 tentang Susunan dan Kedudukan MPR baru. Dalam UU terbaru ini jumlah kursi ABRI di DPR dikurangi, dari 100 menjadi 75. Tetapi, selain ini tak ada perubahan apapun yang mengarah kepada demokratisasi. “Dalam praktek, pemerintah masih saja berat kepada Golkar. Aparat pemerintah tetap mengemban misi memenangkan Golkar, sehingga berbagai rekayasa yang berbau kekerasan politik terus berlangsung,” tulis Tim KPU dalam Pemilihan Umum 1997 Perkiraan, Harapan, dan Evaluasi 1997 162. Meski PPP dan PDI dinggap lebih berani menyuarakan kritik atas pemerintahan, pada masa kampanye suara mereka datar-datar saja. Golkar tetap mengulang materi kampanye tentang pembangunan dan klaim prestasi semu pemerintah. PPP dan PDI tentu saja mengkritiknya, terutama soal penyakit KKN yang akut. “Tetapi penguraian lebih jauh tentang bagaimana proses pembaruan dan atau perubahan ini akan dilaksanakan tampaknya tidak terungkap dalam pemberitaan media massa, atau memang ketiga OPP belum mempunyai konsep tentang cara dan ke mana arah proses pembaruan dan atau perubahan akan dilangsungkan. Akibatnya, terkesan ketiga OPP hanya mengumbar janji-janji yang sloganistis,” tulis J. Kristiadi dan kawan-kawan dalam Pemilihan Umum 1997 Perkiraan, Harapan, dan Evaluasi hlm. 82. Dinamika kampanye Pemilu 1997 ini terutama disebabkan oleh dua hal meningkatnya kerusuhan dan munculnya “koalisi” Mega-Bintang. Seturut pindaian J. Kristiadi dan kawan-kawan, kekerasan dan keberingasan massa meningkat kala kampanye memasuki putaran-putaran terakhir. Insiden sering terjadi di antara massa pendukung OPP atau bahkan antara massa dan aparat keamanan. Kerusuhan massal yang cukup besar terjadi di Jakarta, Tangerang, Bangil, dan Banjarmasin. Sementara itu fenomena Mega-Bintang mulanya disulut oleh pecahnya internal PDI, antara PDI Soerjadi dan PDI Megawati. Ada isu yang santer bahwa PDI Megawati mendekat ke PPP dan mengalihkan suaranya ke partai berlambang bintang itu. Meski demikian, antusiasme atas munculnya isu koalisi ini tampak hanya terjadi di Jawa. Pimpinan pusat PPP pun menolak secara resmi adanya koalisi ini. Golkar Menang Lagi, Soeharto Maju Lagi Pemungutan suara diselenggarakan pada 29 Mei 1997. Seturut data dari Tim KPU hlm. 164, Golkar kembali ke puncak dengan perolehan suara nasional 74,51 persen. PPP berada di urutan kedua dengan membukukan 22,43 persen. Sementara itu PDI yang dilanda pepecahan internal merosot drastis dengan hanya meraup 3,06 persen. Dari hasil itu tentu kentara bahwa rezim Soeharto masih akan pegang kendali. Pendukung rezim membaca hasil pemilu itu sebagai “pemberian mandat” kepada Golkar untuk meneruskan programnya. Karenanya, J. Kristiadi menyebut bahwa yang bernilai dari Pemilu 1997 bukanlah hasilnya, tapi dinamika protes yang terjadi selama masa kampanye dan pemungutan suara. “Justru perhatian perlu ditujukan lebih kepada substansi gejolak dan protes daripada kepada hasil Pemilu. Dalam kondisi negara Indonesia saat ini, gejolak dan protes merupakan penyataan jujur mengenai tuntutan dan harapan publik,” tulis J. Kristiadi dan kawan-kawan hlm. 182. Usai pemilu, ketika DPR baru terbentuk, Indonesia dihantam krisis moneter. Dari masalah ekonomi, krisis itu lantas merembet jadi krisis politik. Segala protes dan tuntutan reformasi kian menguat sepanjang paruh kedua 1997. Apalagi rezim Soeharto gagal mengatasi krisis ekonomi itu. Di tengah kondisi kalut macam itu komposisi DPR yang mayoritas dikuasai Golkar hendak melanggengkan kekuasaan Soeharto. Protes dan tuntutan reformasi hanya pepesan kosong bagi Golkar. Tapi justru gara-gara usaha-usaha tersebut, Soeharto semakin kehilangan daya politiknya. Itu semakin terlihat memasuki Maret 1998. Ketika nilai tukar rupiah terus melejit dan harga sembako melambung, Golkar kembali mencalonkan Soeharto sebagai presiden. Pada awal 1997 Soeharto sempat memberi isyarat “pensiun”. Terlepas dari benar-tidaknya isyarat itu, Golkar kemudian mengadakan penjaringan aspirasi dari kepengurusan tingkat pusat hingga daerah. Gampang diduga, keluarga besar Golkar satu suara mendorong Soeharto lagi. “Semua surat pernyataan dukungan yang menumpuk di DPP Golkar hanya menyebut satu nama yaitu Haji Mohammad Soeharto,” tutur Harmoko yang juga ketua MPR/DPR sebagaimana dikutip Republika 21/1/1998. Soeharto kemudian menyatakan bersedia mencalonkan diri lagi untuk dipilih pada Sidang Umum MPR yang akan dilangsungkan pada Maret 1998. Ia juga mengisyaratkan agar Habibie dimajukan sebagai calon wakil presiden. Namun, berbeda dari yang dulu-dulu, reaksi publik kali ini negatif. Akhirnya Tumbang Juga Republika mencatat bersamaan dengan pengumuman pencalonan itu kurs rupiah jadi makin anjlok. Di pasar antarbank, nilai tukar rupiah menembus angka psikologis per dolar AS. “Di tempat penukaran uang money changer, posisi rupiah lebih mengenaskan lagi. Di kantor cabang BDNI Sudirman, dolar AS diperdagangkan untuk posisi jual. Kurs belinya juga di bawah tulis Republika. Pengumuman pencalonan Soeharto bukan sebab tunggal. Pelaku pasar masih belum percaya pada paket reformasi yang dibikin IMF dan Pemerintah. Secara lebih luas, masyarakat tak percaya Soeharto bisa mengatasi krisis, baik ekonomi maupun politik. Karenanya, suara yang menginginkan reformasi pun kian santer. “Reformasi apa pun di bidang ekonomi kalau tidak disertai dengan reformasi sosial politik, dia akan gagal lagi. Tiga puluh tahun yang kita alami telah membuktikan hal itu dengan jelas,” ujar cendekiawan Nurcholish Madjid sebagaimana dikutip Kompas 5/2/1998. undefinedKrisis kian memuncak pada pertengahan Maret. Pada 10 Maret Sidang Umum MPR memilih Soeharto dan Habibie sebagai presiden dan wapres untuk periode 1998-2003. Esoknya, mahasiswa di Yogyakarta menyambut pelantikan Soeharto dengan unjuk rasa. Republika 12/3/1998 melaporkan unjuk rasa itu dihadiri sekira mahasiswa. Demonstrasi di kampus UGM itu diwarnai seruan-seruan dibentuknya pemerintahan yang bersih, bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Aksi serupa—yang berakhir bentrok—terjadi pula di Surabaya dan Solo. Ketidakpuasan publik kian mengemuka kala Soeharto mengumumkan Kabinet Pembangunan VII. Ketika tuntutan reformasi kian keras, Soeharto justru mendudukkan keluarga dan kroninya dalam kabinet. Sebutlah Tutut—putri tertua Soeharto—yang menduduki jabatan menteri sosial dan Bob Hasan yang mendapat jatah sebagai menteri perdagangan. Sejak itu demonstrasi dan protes semakin sering mengisi halaman media. Pun demikian dengan segala macam kerusuhan. Pada awal Mei sebuah kerusuhan cukup besar pecah di Medan. Lalu terjadilah, pada 12 Mei, sebuah peristiwa yang menjadi lonceng keruntuhan rezim Soeharto penembakan empat mahasiswa Trisakti. “Pembunuhan mahasiswa Trisakti merupakan titik balik. Kematian mereka, bersama dengan keruntuhan ekonomi, kebrutalan ABRI, korupsi rezim, dan kemustahilan akan adanya reformasi, telah memporak-porandakan benteng terakhir keabsahan rezim dan ketertiban sosial,” tulis Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 2008 652.Akhirnya, pada 21 Mei 1998, Soeharto tumbang. - Politik Penulis Fadrik Aziz FirdausiEditor Ivan Aulia Ahsan
Mahasiswa/Alumni Universitas Pendidikan Indonesia05 Agustus 2022 1011Indikator tersebut adalah terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut. Pemilu tahun 1997 dilakukan di masa-masa akhir Orde Baru. Pemilu ini terjadi pada 29 Mei 1997. Pemilu 1997 ini merupakan pemilu keenam selama masa pemerintahan Orde Baru, dengan Golkar keluar sebagai pemenangnya. Kemenangan Golkar pada Pemilu 1997 mempunyai arti bahwa dukungan terhadap Soeharto untuk menjabat kembali sebagai presiden Indonesia. Penyelenggaraan Pemilu 1997 belum menjadi momentum terjadinya suksesi kepemimpinan nasional. Indikator yang membuktikan pernyataan tersebut adalah terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Dengan demikian, Indikator tersebut adalah terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Semoga membantu.
Kemenangan golkar pada pemilu 1997 mempunyai arti bahwa ... berikan alasannya a. kekalahan yang harus diterima oleh PPP b. pupuslah perjuangan PDIP untuk menarik suara mayoritas c. golkar merupakan partai politik yang besar dan belum terkalahkan d. dukungan kembalii kepada soeharto untuk menjabat presiden e. pelaksanaan kembali sistemkabinet presidensial Pertanda kemenangan prabowo
Penyelewengan kekuasaan pada masa Orde Baru antara lain terjadinya Korupsi Kolusi Nepotisme KKN, pemilu 1997, dan krisis ekonomi dan moneter tahun 1998. Halo, Sobat Zenius! Untuk mengawali tulisan ini, gue mau nanya dulu deh, ada berapa periode perkembangan demokrasi di Indonesia? Yap, ada 4 periode demokrasi sampai saat ini, yaitu Demokrasi Liberal-Parlementer, Demokrasi Terpimpin, Demokrasi Pancasila era Orde Baru, dan Demokrasi Pancasila era Reformasi. Nah, Demokrasi Pancasila dimulai pada masa pemerintahan Soeharto, yaitu era Orde Baru. Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masa Orde Baru memang kedengarannya bagus banget ya, guys. Tapi, jangan salah. Pada masa ini justru banyak sekali penyelewengan kekuasaan. Jadi, Pancasila ini ibarat tameng untuk menutupi tindakan-tindakan pemerintah yang salah. Lho, kok bisa? Bisa dong, langsung aja deh kita bahas, yuk! Sekilas tentang Masa Orde BaruApa Itu KKN Korupsi Kolusi Nepotisme?Pemilu 1997Contoh Kasus Korupsi Kolusi Nepotisme di IndonesiaContoh Soal tentang Korupsi Kolusi Nepotisme Sekilas tentang Masa Orde Baru Perubahan demokrasi dari terpimpin menjadi Pancasila artinya penerapan nilai-nilai Pancasila ditekankan pada seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam kehidupan demokrasi. Hal itu diwujudkan oleh pelaksanaan P4 Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Buku Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila sebagai bahan seminar penataran P4 pada masa Orde Baru Dok. Cuplikan video Zenius Penerapan nilai-nilai Pancasila di era Orde Baru ini dilatarbelakangi oleh era Orde Lama yang dinilai bertentangan dengan nilai Pancasila. Dengan begitu, pada era Orde Baru ditekankan lagi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Oh iya, selain itu juga ada alasan lain kenapa pada era Orde Baru sangat ditekankan nilai Pancasila, yaitu dalam upaya menggerus paham komunisme di Indonesia. Sayangnya, Pancasila ini ibarat tameng yang menutupi tindakan pemerintah yang salah pada masa Orde Baru. Penyelewengan kekuasaan yang terjadi pada masa ini seperti munculnya Korupsi Kolusi Nepotisme KKN, hasil pemilu 1997, hingga terjadi krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1998. Intinya, pada masa ini, meskipun kita menggunakan Demokrasi Pancasila, tapi masyarakatnya nggak bebas gitu lho, guys. Kita nggak boleh membuat partai politik baru, kita juga nggak boleh mengkritik pemerintah. Kalau kita melakukan hal tersebut, kita akan ditangkap oleh pihak berwenang. Serem nggak tuh? Alasannya ya karena kita dianggap nggak pancasilais atau anti Pancasila. Padahal pemerintahnya aja yang bermasalah. Sampai sini paham ya? Baca Juga Kelebihan dan Kelemahan Era Orde Baru Indonesia – Materi Sejarah Kelas 12 Apa Itu KKN Korupsi Kolusi Nepotisme? Kita bedah istilah KKN Korupsi Kolusi Nepotisme dengan menggunakan analogi supaya lebih mudah ya. Untuk korupsi, elo juga pasti tau lah ya, korupsi merupakan tindakan penyelewengan uang kelompok demi kepentingan pribadi. Istilah kasarnya mencuri. Contohnya gini, elo mau bikin acara sekolah dengan biaya 10 juta. Tapi, elo tambah anggaran menjadi 11 juta, alasannya untuk penyewaan tenda, kursi, dan lain-lain yang padahal itu nggak ada di acara. Terus uangnya elo kemanain? Masuk deh kantong pribadi. Itu termasuk tindakan korupsi, sekalipun uang yang diambil hanya sedikit. Kasus Korupsi Kolusi Nepotisme harus dihentikan! Dok. Cuplikan video Zenius Lalu, ada juga istilah kolusi. Ini nggak jauh beda dengan korupsi, istilah kasarnya mencuri tapi bersekongkol atau bareng-bareng. Kalau korupsi itu kan sendirian, nah kolusi bareng-bareng. Misalnya dari kasus elo yang mau bikin acara sekolah. Elo sama Zeno lagi bikin anggaran bareng, nah kalian berdua bersekongkol gini, “Cuy, anggarannya kita lebihin yok, nanti uangnya kita bagi dua!”. Contoh lainnya dari tindakan kolusi adalah uang sogokan atau uang “tempel”. Nah, kebayang ya? Kemudian, ada istilah nepotisme, yaitu penyalahgunaan kewenangan tertentu demi kepentingan diri sendiri atau kelompok tertentu. Contoh dari tindakan nepotisme yang terjadi di Indonesia adalah saat perekrutan karyawan. Jadi, perekrutan karyawan baru di suatu perusahaan berdasarkan kekerabatan, bukan berdasarkan kemampuannya. Istilah kasarnya masuk lewat orang dalam. Pasti elo sering dengar kan? Biasanya, hal ini dilakukan demi mencapai kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Mengapa pada masa Orde Baru terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme? Jawabannya jelas ya, balik lagi ke penerapan nilai-nilai Pancasila yang ibaratnya dijadikan tameng bagi pemerintahan Orde Baru untuk bebas berkuasa, dengan kata lain semena-mena. Sehingga, muncul otoriter terselubung dan tersentralisasinya kepemimpinan Soeharto. Berdirinya KPK pada masa pemerintahan Megawati Dok. Cuplikan video Zenius Yap, pada masa itu belum ada KPK, guys. Berdirinya KPK itu berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2002 pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Salah satu pasal yang tertuang dalam undang-undang tersebut yaitu pasal 3 yang berbunyi “Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan mana pun”. Buat elo yang masih penasaran sama materi KKN Korupsi Kolusi Nepotisme bisa langsung meluncur ke video belajar Zenius dengan klik banner di bawah ini ya! Pemilu 1997 Salah satu tindakan penyelewengan kekuasaan masa Orde Baru adalah fusi parpol. Awal kemunculan pemilu di Indonesia tahun 1955, ada lebih dari 30 partai yang ikut serta dalam pemilu pertama ini. Kemudian, pada tahun 1973, Soeharto melebur partai-partai politik tersebut menjadi 3 partai besar, yaitu PPP Partai Persatuan PembangunanPDI Partai Demokrasi IndonesiaGolkar Golongan Karya Ketiga partai besar tersebut mencakup golongan-golongan tertentu. PPP mencakup kekuatan Islam, PDI mencakup kekuatan nasionalis dan Kristen, Golkar mencakup golongan khusus seperti pengusaha. Lho, kenapa Soeharto pada era Orde Baru menggabung partai politik menjadi 3? Hal ini dilatarbelakangi oleh kekacauan politik pada era Demokrasi Liberal pemerintahan Soekarno, ketika antar partai saling menjatuhkan satu sama lain di parlemen. Dengan alasan tersebut, masyarakat nggak boleh bikin partai baru di luar ketiga partai besar PPP, PDI, dan Golkar. Padahal, yang namanya demokrasi harusnya boleh-boleh aja dong masyarakat bikin partai baru. Bukan malah mencederai demokrasi. Lalu, di antara ketiga partai besar tersebut, yang selalu menang ya Golkar lagi, Golkar lagi. Lho, emang kenapa, bukannya nggak masalah ya orang dia yang menang? Eitss … ada penyelewengan di sini, guys. Coba aja elo pikirkan, selama 6 kali berturut-turut—1971, 1972, 1982, 1987, 1992, dan 1997—Golkar selalu menang dan Soeharto yang terus memimpin. Padahal pada masa itu partainya ada 3, kok bisa Golkar terus yang menang? Nah, kemenangan Golkar pada pemilu 1997 mempunyai arti bahwa selama masa Orde Baru, pemilu dianggap curang. Balik lagi ke pertanyaan kenapa kok bisa gitu? Penasaran? Yuk, langsung aja cari tau jawabannya di video belajar Zenius di sini. Baca Juga Mengenal Pemilu di Indonesia Contoh Kasus Korupsi Kolusi Nepotisme di Indonesia Contoh kasus KKN Korupsi Kolusi Nepotisme di Indonesia bisa kita ambil dari Keluarga Cendana atau keluarganya Soeharto. Udah jadi rahasia umum kalau Keluarga Cendana melakukan tindak KKN pada masa itu. Selain Keluarga Cendana, ada lagi nih kasus BLBI Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Ini merupakan program pinjaman yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada bank-bank lain di Indonesia yang mengalami masalah likuiditas saat terjadinya krisis ekonomi dan moneter 1998. Sayangnya, program ini sangat merugikan Indonesia, guys. Normalnya, bank yang udah mengembalikan bantuan kepada Bank Indonesia akan mendapatkan SKL Surat Keterangan Lunas. Tapi, ternyata SKL itu diberikan sebelum bank peminjam melunasi utangnya. Menurut keterangan KPK, Indonesia mengalami kerugian hingga Rp3,7 triliun. Kita lari ke kasus yang agak baru, yaitu kasus E-KTP. Kasus ini cukup fenomenal ya, karena menyeret mantan Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto. Ia telah melakukan tindak korupsi bersama-sama—yang artinya juga melakukan kolusi dong—proyek E-KTP tahun anggaran 2011-2013 sebesar US$7,3 juta dan telah menerima satu jam tangan merek Richard Mille dengan harga US$135 ribu. Contoh lainnya dari kasus KKN di Indonesia Dok. Cuplikan video Zenius Ada nggak kasus lainnya sebagai contoh Korupsi Kolusi Nepotisme di Indonesia yang elo ketahui? Yuk, langsung sharing aja di kolom komentar! Baca Juga Kebijakan Ekonomi dan Pembangunan Masa Orde Baru – Materi Sejarah Kelas 12 Contoh Soal tentang Korupsi Kolusi Nepotisme Gimana, udah paham kan dengan materi di atas? Supaya pemahaman elo makin oke, gue punya beberapa contoh soal dan pembahasannya mengenai praktik dan contoh korupsi kolusi nepotisme untuk dijadikan referensi. Contoh Soal 1 Zeno akan mengkoordinir perjalanan ke Kebun Raya Ragunan. Harga satu tiket masuk adalah Akan tetapi, Zeno memberitahukan kepada teman-temannya bahwa harga satu tiket masuknya adalah Tindakan Zeno termasuk dalam tindakan …. a. Kolusi b. Korupsi c. Nepotisme d. Radikalisme e. Skeptisisme Jawab Dari kasus Zeno di atas, ada tindakan menyelewengkan uang kelompok untuk kepentingan pribadi. Sehingga, tindakan Zeno termasuk dalam tindakan korupsi. Contoh Soal 2 KPK didirikan pada masa pemerintahan Megawati, yakni pada tahun 2002. Dasar hukum berdirinya KPK diatur oleh …. a. UUD 1945 b. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 c. PP No. 10 Tahun 2002 d. Keputusan Presiden No. 40/P Tahun 2002 e. Keputusan Presiden No. 7 Tahun 2002 Jawab b. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. Pembahasan Dasar hukum berdirinya KPK diatur oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002. ***** Gimana nih, sampai sini udah paham kan tentang pengertian, kegunaan, sifat, dan contoh KKN Korupsi Kolusi Nepotisme? Buat yang lebih menyukai belajar dengan nonton video, elo bisa mengakses materi ini di video belajar Zenius menggunakan akun yang sudah didaftarkan di website dan aplikasi Zenius sebelumnya, ya! Baca Juga Paham Komunisme itu Gimana sih? Referensi Kasus E-KTP, Setya Novanto Divonis 15 Tahun Penjara — Tempo 2018. Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia — Fakultas Hukum UMSU 2022.
kemenangan golkar pada pemilu 1997 mempunyai arti bahwa